image source: The Wayfaring Muslim Parent

Mari dilanjutken cerita saya ini, terakhir sampai setelah ujian IELTS. Menunggu 13 hari dari ujian merupakan hal yang cukup berat saya alami. Harap-harap cemas. Tigas belas hari berlalu, hari pengumuman pun tiba, saya mengakses halaman website untuk melihat hasil ujian IETLS saya pada jam kantor, tadaaaaa, saya terkejut overall score saya 6.5 dan tidak bagian yang di bawah 6. ALHAMDULILLAH YA ALLAH. Saya pun sujud sukur di dekat meja kerja saya, dan saya merasa “One step closer!”.

Di akhir pekan setelah pengumuman tersebut, saya langsung menyusun timeline saya selama setengah tahun ke depan, dengan tujuan utama mendapatkan beasiswa! Nilai IELTS tersebut telah membuka kesempatan saya untuk sekedar melamar beasiswa. Berikut timeline yang saya buat, tanggal tersebut merupakan deadline dari aplikasi beasiswa:

  • Chevening, 15 November 2016
  • Swedish Institute Study Scholarship, 16 Januari 2017 (Tahap 1) dan 10 Februari 2017 (Tahap 2)
  • Kominfo, 28 Februari 2017
  • New Zealand-ASEAN Scholars Awards, 15 Maret 2017
  • StuNed , 1 April 2017
  • Australia Awards, 30 April 2017
  • Orange Tulip Scholarship, 1 Mei 2017
  • LPDP, 7 Juli 2017 (saya dapatkan kabarnya beberapa minggu setelah membuat timeline ini)

Ok, jadi deadline yang terdekat adalah Beasiswa Swedish Institute yaitu 16 Januari 2017 yang kurang lebih waktu yang saya miliki adalah dua minggu. Saya pun mulai cari tahu tahap demi tahap yang harus saya lalui untuk mendapatkan beasiswa tersebut dengan membaca prosedur yang dijelaskan dari website resminya di sini, bertanya ke teman saya yang menjadi awardee di tahun sebelumnya serta membaca tulisan dari Mbak Kiky Edward di tautan berikut bagian 1 dan bagian 2. Tahapan yang saya jalani tidak berbeda jauh dari yang dijelaskan di sana, jadi tidak akan saya jelaskan dengan detail di sini 🙂

Di tahap pertama seleksi Beasiswa Swedish Institute ini, kita diharuskan menulis essay tentang pengalaman leadership dan future plans dengan jumlah karakter yang sangat terbatas, sekitar 200 karakter (termasuk spasi lho). Saya mengadopsi beberapa poin dari essay yang telah saya tulis di essay Chevening tentunya dengan perbaikan-perbaikan. Setelah melalui beberapa kali revisi dengan meminta feedback dari teman terpercaya saya, bismillah, saya submit aplikasi saya untuk beasiswa tersebut.

Dikarenakan aplikasi beasiswa dan proses mendaftar universitas berbarengan, segera setelah submit Beasiswa Swedish Institute tahap pertama saya langsung mulai membuat essay untuk mendaftar universitasnya. Jika belum membaca penjelasan dari tautan-tautan di atas, sistem penerimaan mahasiswa di Swedia terpusat dan cuma setahun sekali, mirip SNMPTN kalau di Indonesia. Deadline-nya 30 Januari 2017, dua minggu tersisa untuk mengurus essay, surat rekomendasi serta berkas-berkas pendukung lainnya.

Suatu hari saat sedang mengikuti rapat dengan dua orang direktur serta beberapa karyawan lainnya, saya mendapatkan email bahwa saya lolos tahap pertama Beasiswa Swedish Institute. Secara spontan saya berbicara “Yes, alhamdulillah lolos”, dan ditanya oleh orang-orang seisi ruangan itu, haha. Ya sudah saya jawab apa adanya, haha. Semakin bersemangat untuk segera submit berkas-berkas untuk mendaftar universitas serta membayar uang pendaftaran 900 SEK atau sekitar Rp. 1,4 juta untuk empat universitas. Stockholm University menjadi pilihan pertama saya dengan jurusan Information Systems Management.

Setelah submit untuk mendaftar universitas, saya langsung bergegas untuk memulai brainstorming untuk menjawab pertanyaan essay untuk tahap kedua ini. Pertanyaannya seputar tantangan atau masalah yang dihadapi negeri ini, pengalaman kerja, leadership, future plans, dan networking. Hal yang sama saya lakukan seperti membuat essay Chevening sebelumnya, di KRL berangkat dan pulang kerja memikirkan essay, hingga akhir pekan dipenuhi dengan revisi. Setelah saya merasa mantap dengan membaca essay saya berulang kali, mengejar direktur dan manager untuk surat rekomendasi serta surat keterangan kerja yang menjadi berkas wajib, akhirnya saya submit dengan merasa seluruh usaha maksimal telah saya lakukan.

Di Bulan Februari 2017, saya mendapatkan email dari pihak Chevening jika saya tidak lolos ke tahap selanjutnya. Jeng jeeeng, lumayan down dengan membaca email tersebut. Saya pun mencoba untuk menghibur diri (lagi), “Nilai IELTS (bagian writing) kamu masih kurang tuh buat universitas inceran di UK. Jadi ga perlu ambil IELTS lagi kan?! Haha. Sama kuliah di UK cuma setahun lho, cukup buat riset yang mau dilakukan kah?”. Terkadang berbicara kepada diri sendiri itu perlu, haha.

Singkat cerita, akhir Maret 2017 saya mendapatkan email bahwa hasil pendaftaran universitas telah keluar, dan saya cek di akun saya, alhamdulillah saya diterima di pilihan pertama saya yaitu Stockholm University. Mengingat ini merupakan percobaan pertama saya untuk mendaftar universitas, saya sangat bersyukur 🙂

Tak terasa Bulan April 2017 pun tiba, tanggal 10 April 2017 merupakan tanggal yang saya tunggu-tunggu. Dalam perburuan beasiswa, menunggu merupakan hal yang paling bikin gelisah. Saat sedang mengerjakan tugas di kantor, terdapat email masuk yang menyatakan saya lolos di tahap kedua ini. ALHAMDULILLAH, saya pun langsung sujud syukur dan menelpon ibu di rumah untuk memberitahukan kabar baik ini.

Dari cerita saya yang cukup panjang ini, terdapat banyak hal yang saya pelajari di antaranya adalah:

  • Doa dan restu ibu saya sangat membantu kelancaran saya hingga mencapai titik ini. Jika ibu sudah ridho dan tentunya kehendak Allah, entah mengapa saya merasa semesta akan mendukung usaha saya untuk mencapai sesuatu. Saat mendaftar kuliah untuk jenjang S1 pun saya juga merasakannya. Sebagai anak yang tidak terlalu pintar, saya menjadi salah satu dari beberapa alumni SMA 1 Blitar di angkatan saya yang dapat melanjutkan studi di Universitas Indonesia. Sangat beruntung 🙂
  • Usaha dan berdoa saya lakukan terus menerus sembari meluruskan niat untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Bukan untuk jalan-jalan ke luar negeri, bukan untuk pamer atau sekedar ikut trend namun memang untuk membantu Indonesia menjadi negeri yang lebih baik lagi. Terdengar klise, namun dari niat ini lah semua berawal dan dinilai oleh Yang Maha Kuasa. Serta jangan cepat menyerah dengan kegagalan yang dialami, terus lakukan perbaikan-perbaikan di essay.
  • Buatlah timeline dengan jelas agar lebih dapat mempersiapkan diri. Fail to plan, plan to fail! Misal belum memiliki sertifikat IELTS atau TOEFL iBT, sesuaikan jadwal untuk ujian dengan deadline beasiswa yang sedang diincar, serta jangan lupa dari tanggal ujian hingga kita mendapatkan sertifikat butuh berapa lama. IELTS butuh sekitar 13 hari hingga kita mengetahui hasilnya lalu mengambil sendiri sertifikat di tempat penyelenggara ujian. Yang tidak kalah penting adalah persyaratan dari beasiswa itu sendiri, misalnya beasiswa StuNed (Studeren in Nederland). Untuk sekedar mendaftar saja, kita diwajibkan untuk memiliki unconditional LoA alias sudah diterima di universitas tujuan tanpa persyaratan yang kurang. Sepengetahuan saya proses dari mendaftar hingga diterima di Belanda sekitar 4-6 minggu. Jadi atur waktu ya!

Sekian yang dapat saya tulis, semoga bermanfaat!

Advertisements